Pengertian Cara Mengganti Puasa Ramadhan Dengan Fidyah

By | Mei 16, 2019

Fachri Aja, Pengertian Cara Mengganti Puasa Ramadhan Dengan Fidyah | Update lagi, hari ini kami ingin berbagi sedikit ilmu seputar cara mengganti puasa ramadhan dengan fidyah. Tulisan yang kami sajikan kali ini menceritakan tentang cara mengganti puasa ramadhan dengan fidyah terutama bagi ibu hamil. Apabila Anda tidak sanggup mengganti puasa ramadhan dengan puasa qadha maka bisa dilakukan dengan fidyah. Jadi, silahkan Anda baca artikel mengenai cara mengganti puasa ramadhan dengan fidyah agar wawasan anda semakin luas.

Cara Mengganti Puasa Ramadhan Dengan Fidyah Bagi Ibu Hamil

Cara Mengganti Puasa Ramadhan Dengan Fidyah

Cara Mengganti Puasa Ramadhan Dengan Fidyah

Ulama dari golongan hababilah, syafi’iyah dan malikiyah berpendapat bahwa seseorang yang belum membayar hutang puasa sampai tiba ramadhan. Karenanya patut baginya untuk membayar denda (kaffarah) berupa fidyah atau makanan pokok terhadap kaum fakir-miskin.

Besar fidyah yang dibayarkan mesti disesuaikan dengan jumlah hari ia tidak berpuasa. Dimana takaran membayar fidyah dengan beras sehari besarnya berimbang yaitu 1 mud berapa kilo beras atau sekitar 6 ons.

Bagi orang-orang yang hutang puasanya terlampau banyak dikarenakan ia terkena udzur, semisal hamil atau menyusui selama bulan puasa atau orang berusia lanjut yang lemah, maka menurut ulama mereka diperkenankan membayar fidyah saja. Tidak perlu mengqadha. Pendapat ini sebagai acuan pada hadist yang berbunyi:

“Wanita hamil dan menyusui, jika takut terhadap anak-anaknya, maka mereka berbuka dan memberi makan seorang miskin.” (HR. Abu Dawud)

Imam Nawawi juga mengatakan: “Para sahabat kami (ulama Syafi’iyah) mengatakan, ‘Orang yang hamil dan menyusui, apabila keduanya khawatir dengan puasanya dapat membahayakan dirinya, maka dia berbuka dan mengqadha.

Tidak adanya fidyah karena ada hal seperti dia adalah orang yang sakit dan semua ini tidak ada perselisihan (di antara Syafi’iyyah). Jika ada wanita yang hamil dan menyusui dikhawatirkan dengan melakukan puasa akan membahayakan dirinya dan anaknya, maka sedemikian pula (hendaklah) dia berbuka dan mengqadha, tanpa ada perselisihan (di antara Syafi’iyyah).’” (Al-Majmu’: 6-177)

Cukup membayar fidyah

Format fidyah dalam mengganti puasa Ramadhan yang disarankan lazimnya berupa makanan pokok yang sering dikomsumsi tiap hari. Jikalau memang tiap-tiap hari mengkomsumsi beras yang bermutu tinggi karenanya fidyahnya bahkan semestinya demikian dan jangan diganti dengan kualitasnya lebih rendah.

Sebab alasan berkeinginan lebih murah. Serta bagi orang yang megkonsumsi makanan pokokn dalam hal lain ini, seperti jagung, ubi jalar, gandum dan selainnya, seharusnya dengan variasi yang sama yang dikomsumsi tiap hari. Dan mengenai ini ada sebagian anggapan :

Satu Sha’

Untuk takaran dengan memakai istilah ini yaitu seimbang dengan 4 mud yang berarti pula sama dengan jumlah takaran zakat fitrah. Maka kurang lebih 2,7 liter beras atau bahan pokok lainnya. Pendapat ini dianut oleh mazhab Hanafiah.

Satu Mud

Kalau disetarakan dengan ukuran berat karenanya 1 mud = 675 gram, jadi tak sampai 1 liter. Jadi apabila Anda memilih pendapat ini, yaitu berdasarkan Imam an-Nawawi, maka fidyah yang dikeluarkan untuk membayar utang puasa Anda hanya seperempat dari yang pertama di atas.

Baca Juga: Terungkap Tata Cara Membayar Hutang Puasa Ramadhan

Penutup

Sekian yang dapat Fachri Aja bagikan, tentang Pengertian Cara Mengganti Puasa Ramadhan Dengan Fidyah, dimana kami sendiri menyarankan untuk memilih yang pertama sebagai wujud kehati-hatian, apalagi jikalau anda juga memilih anggapan Ibnu Umar yang mengizinkan mengganti puasa cukup dengan fidyah saja, tanpa mesti lagi mengerjakan Qada’. Terima kasih telah mengunjungi fachriaja.com, semoga bermanfaat dan sampai jumpa lagi di artikel Agama berikutnya.

Click on a star to rate it!

Average rating / 5. Vote count:

Author: fachriaja

Fachri begitulah sapaan akrab cowok berkacamata yang lahir di Kota Surabaya dengan memiliki nama lengkap Fachri Fajar Rahadiyathama. Terlahir sebagai anak pertama dari pasangan Ibu Ifa dan Ayah Heri pada 22 Maret 1993. Kuliah di Universitas Airlangga dengan jurusan Manajemen.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *