Kontroversi Doa Buka Puasa di Kalangan Masyarakat

By | Mei 25, 2019

Fachri Aja, Kontroversi Doa Buka Puasa di Kalangan Masyarakat | Pada Artikel yang Anda baca kali ini dengan judul kontroversi doa buka puasa, kami telah mempersiapkan artikel tentang kontroversi doa buka puasa yang dhaif dengan baik untuk Anda baca dan ambil informasi didalamnya. Akhir-akhir ini doa berbuka puasa yang telah lama diamalkan oleh masyarakat dipersoalkan oleh sebagian pihak. Berdasarkan orang kebanyakan. Doa berbuka puasa dhaif yang biasa dibaca masyarakat. “Allâhumma laka shumtu wa bika âmantu wa ‘alâ rizqika afthartu,” . Mudah-mudahan isi postingan kontroversi doa buka puasa yang kami tulis ini dapat Anda pahami. baiklah, selamat membaca.

Kontroversi Doa Buka Puasa Yang Shahih Sesuai Hadits

Kontroversi Doa Buka Puasa di Kalangan Masyarakat

Kontroversi Doa Buka Puasa di Kalangan Masyarakat

Sejumlah pihak ini menawarkan alternatif lafal doa yang ditunjang hadits shahih riwayat Abu Dawud, ialah “Dzahabaz zhama’u wabtallatil ‘urûqu wa tsabatal ajru, insyâ Allah.

Pertanyaannya apakah benar doa berbuka puasa yang diamalkan oleh masyarakat selama ini hanya bersandar pada hadits yang dhaif? Apakah benar kualitas hadits riwayat Abu Dawud berhubungan doa berbuka puasa lebih shahih dibandingi hadits yang diamalkan oleh masyarakat Indonesia selama ini? Mari kita amati keterangan berikut ini.

Dalil berbuka puasa Hadits lengkap riwayat Abu Dawud berbunyi sebagai berikut:

حدثنا عبد الله بن محمد بن يحيى أبو محمد حدثنا علي بن الحسن أخبرني الحسين بن واقد حدثنا مروان يعني ابن سالم المقفع قال رأيت ابن عمر يقبض على لحيته فيقطع ما زاد على الكف وقال كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا أفطر قال ذهب الظمأ وابتلت العروق وثبت الأجر إن شاء الله

Artinya, “Kami mendapat riwayat dari Abdullah bin Muhammad bin Yahya, yaitu Abu Muhammad, kami mendapat riwayat dari Ali bin Hasan, kami mendapat riwayat dari Husein bin Waqid, kami mendapat riwayat dari Marwan, yaitu Bin Salim Al-Muqaffa‘, ia berkata bahwa aku melihat Ibnu Umar menggenggam jenggotnya, lalu memangkas sisanya. Ia berkata, Rasulullah bila berbuka puasa membaca, ‘Dzahabaz zhama’u wabtallatil ‘urûqu wa tsabatal ajru, insyâ Allah’,” (HR Abu Dawud)

Sementara doa berbuka puasa yang sering kali diamalkan masyarakat. Adalah “Allâhumma laka shumtu wa ‘alâ rizqika afthartu,” bersumber dari riwayat Imam Bukhari dan Muslim sebagai keterangan Syekh M Khatib As-Syarbini berikut ini:

وأن يقول عقب فطره اللهم لك صمت وعلى رزقك أفطرت لانه صلى الله عليه وسلم كان يقول ذلك رواه الشيخان

Artinya, “(Mereka yang berpuasa) dianjurkan setelah berbuka membaca, ‘Allâhumma laka shumtu, wa ‘alâ rizqika afthartu.’ Pasalnya, Rasulullah SAW mengucapkan doa ini yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim,” (Lihat Syekh M Khatib As-Syarbini, Al-Iqna pada Hamisy Bujairimi alal Khatib, [Beirut, Darul Fikr: 2006 M/1426-1427 H], juz II, halaman 385).

Doa buka puasa yang shahih

Apabila ini dilihat dari tingkat keabsahannya. Doa riwayat Bukhari dan Muslim  lebih shahih dibandingkan dengan riwayat Abu Dawud. Hal tersebut menurut kesepakatan ulama ahli hadits. Dari sini sudah jelas bahwa doa buka puasa ramadhan diamalkan masyarakat Indonesia selama ini telah benar dan disupport oleh hadis yang shahih dan kuat.

Lalu bagaimana dengan doa riwayat Abu Dawud? Karena juga diketahui bahwa ada doa dari riwayat perawi lainnya. Yakni ulama dari Madzhab Syafi’i menggabungkan doa riwayat Imam Bukhari dan Muslim dengan doa riwayat Abu Dawud. Demikian diceritakan Sulaiman Bujairimi dalam Hasyiyatul Bujairimi berikut ini:

اللّهُمَّ لَكَ صُمْتُ( ويسن أن يزيد على ذلك وَبِكَ آمَنْتُ، وَبِكَ وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ. ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ العُرُوقُ وَثَبَتَ الأَجْرُ إِنْ شاءَ اللهُ. يا وَاسِعَ الفَضْلِ اِغْفِرْ لِي الحَمْدُ لِلهِ الَّذِي هَدَانِي فَصُمْتُ، وَرَزَقَنِي فَأَفْطَرْتُ.

Artinya, “(Allâhumma laka shumtu wa ‘alâ rizqika afthartu) dianjurkan menambahkan lafal, wa bika âmantu, wa bika wa ‘alaika tawakkaltu. Dzahabaz zhama’u, wabtallatil ‘urûqu, wa tsabatal ajru, insyâ Allah. Yâ wâsi‘al fadhli, ighfir lî. Alhamdulillâhil ladzî hadânî fa shumtu, wa razaqanî fa afthartu,” (Lihat Syekh Sulaiman Al-Bujairimi, Hasyiyatul Bujairimi alal Khatib, [Beirut, Darul Fikr: 2006 M/1426-1427 H], juz II, halaman 385).

Wahai Zat Yang Luas Karunia, ampuni saya. Seluruh puji bagi Tuhan yang memberi petunjuk padaku, lalu aku berpuasa. Dan seluruh puji Ilahi yang memberiku rezeki, lalu saya membatalkannya.”

Dari keterangan ini, kita dapat menarik simpulan bahwa para ulama terdahulu betul-betul arif dalam mengatasi perbedaan riwayat. Mereka menggabungkan dua riwayat yang berbeda tanpa menegasikan, menyalahkan, atau mengecilkan riwayat lain.

Gabungan dua riwayat ini kemudian disuguhkan kepada masyarakat yang kemudian diamalkan turun-temurun oleh mereka hingga kini. Doa ini dibaca setelah setelah mereka membatalkan puasanya.

Baca Juga: 10 Hal Hal Yang Makruh Dalam Puasa di Bulan Ramadhan 

Penutup

Sekian yang dapat Fachri Aja bagikan, tentang Kontroversi Doa Buka Puasa di Kalangan Masyarakat, Anjuran kami sebaiknya kita tak perlu membesar-besarkan perbedaan. Kita sebaiknya tidak menyalahkan doa berbuka puasa masyarakat. Terpenting amalan mereka didorong oleh hadits yang lebih shahih dibandingi doa opsi yang merek tawarkan. Kecuali itu, sebaiknya kita mencari spot temu pada dua riwayat yang berbeda. Kebijaksanaan ini yang menjadi warisan para ulama terdahulu. Wallahu a‘lam. Terima kasih telah mengunjungi fachriaja.com, semoga bermanfaat dan sampai jumpa lagi di artikel Agama berikutnya.

 

Click on a star to rate it!

Average rating / 5. Vote count:

Author: fachriaja

Fachri begitulah sapaan akrab cowok berkacamata yang lahir di Kota Surabaya dengan memiliki nama lengkap Fachri Fajar Rahadiyathama. Terlahir sebagai anak pertama dari pasangan Ibu Ifa dan Ayah Heri pada 22 Maret 1993. Kuliah di Universitas Airlangga dengan jurusan Manajemen.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *