Makna Spiritual Puasa dan Pembentukan Insan Berkarakter

By | Mei 17, 2019

Fachri Aja, Makna Spiritual Puasa dan Pembentukan Insan Berkarakter | Apakah Anda tahu tentang puasa dan pembentukan insan berkarakter?, Jika Anda belum tahu beruntung sekali Anda bisa menyimak artikel ini. Karena pada artikel kali ini, kami akan membahas makalah puasa dan pembentukan insan berkarakter. Puasa, merupakan sebuah proses pembentukan jiwa yang bersih dan watak yang jujur. Puasa juga merupakan perisai bagi orang-orang yang menjalankannya. Maka dari itu, yuk mari kita simak bersama beberapa penjelasan mengenai puasa dan pembentukan insan berkarakter secara jelas dan lengkap dibawah ini.

Makna Spiritual Puasa dan Pembentukan Insan Berkarakter Manusia Ummat Muslim

Makna Spiritual Puasa dan Pembentukan Insan Berkarakter

Makna Spiritual Puasa dan Pembentukan Insan Berkarakter

Bulan Ramadhan sudah hadir kembali tahun ini (1433 H). Setidaknya ada 4 jenis muslim menyambut hadirnya Ramadhan setiap tahun. Pertama, menyukai suka cita dan senang menyambut hadirnya Ramadhan merasakan kenikmatan beribadah di dalamnya.

Kedua, mereka yang menyukai cita dan bahagia menyambut hadirnya bulan Ramadhan, karena diuntungkan secara materi. Ketiga, merasa berat dan terbebani atas hadirnya Ramadhan. Keempat, kalangan yang awam-biasa saja dalam menapaki Ramadhan.

Sekiranya seseorang berusia 40 tahun, maka setidak-tidaknya telah melakukan puasa 27 bulan. Asumsinya yakni semenjak aqil baligh ia telah puasa penuh. Pertanyaannya ialah.

  1. apakah puasa yang telah dilakukan sekian lama itu telah berimbas bagi pembentukan pribadi yang baik, atau belum ?;
  2. pada tataran kolektif, apakah pengaruh berpuasa bagi bangsa ini sudah kelihatan nyata?

Pertanyaan pertama memerlukan mawas diri atau muhasabah atas individu masing-masing. Seandainya seseorang berpuasa sementara pada saat yang sama dia juga menjalankan perbuatan-perbuatan.

  1. kidzb atau berbohong
  2. ghibah wa al-namimah atau menggunjing dan mengadu domba
  3. nadlarun bi al-shahwah atau memandang dengan hawa nafsu
  4. yumna la bihaq atau bersumpah palsu, karenanya puasanya menjadi hampa makna.

Pertanyaan kedua membutuhkan muhasabah nasional. Bila bangsa ini terus berpuasa, melainkan perilaku kolektifnya masih belum menampilkan karakter mulia, maka dapat diungkapkan puasanya masih belum hingga pada skor yang sesungguhnya, yakni taqwa.

Pada tataran realitas, kita masih menjumpai moralitas individu maupun kolektif sebagai bangsa belum sesuai dengan keinginan. Di sana sini masih dijumpai fenomena menurunnya karakter individu maupun bangsa. Menurut Megawangi (2009:21), indikatornya antara lain.

  1. Meningkatnya kekerasan di masyarakat
  2. Pemakaian bahasa dan kata-kata yang memburuk
  3. Pengaruh peer group yang kuat dalam tindak kekerasan
  4. Meningkatnya perilaku merusak diri
  5. Kian kaburnya petunjuk tata krama baik dan buruk
  6. Menurunnya etos kerja
  7. Kian rendahnya rasa saling menghormati satu sama lain
  8. Rendahnya rasa tanggungjawab individu dan warga negara
  9. Membudayanya ketidakjujuran
  10. Adanya rasa saling curiga dan kebencian diantara sesama.

Pembentukan insan berkarakter

Membangun karakter individu dan masyarakat yakni sebuah kewajiban, karena hal itu adalah bagian dari tugas kekhalifahan setiap muslim. Tiap-tiap muslim diperintahkan oleh agama untuk membangun karakter dengan sistem ber-akhlaq al-karimah.

Tugas mulia Nabi Muhammad SAW adalah untuk menyempurnakan karakter mulia dilandasi rahmah atau kasih sayang. Beliau menyontohkan sendiri ajaran akhlak mulianya, dengan empat pilar yaitu shidiq, amanah, tabligh dan fathonah.

Karakter shidiq (benar) dipraktikkan oleh Nabi Muhammad SAW dengan perilaku yang sama antara perkataan dan perbuatan. Sifat amanah (jujur) menjadi landasan utama gerak beliau dalam laku keseharian, hingga-hingga beliau mendapat julukan al-amin oleh suku Quraisy.

Tabligh (akuntabel) yaitu karakter Nabi Muhammad SAW dalam melaksanakan tugas kerasulannya. Meski fathonah (cerdas) ialah cerminan sikap kreatif dalam melakukan tugas sebagai utusan Allah SWT.

Jika ditarik ke konsep kekinian, karenanya empat pilar karakter Nabi Muhammad SAW hal yang demikian sangatlah relevan. Dalam literatur moderen karakter positif biasanya dicirikan dengan hal-hal berikut yaitu menghargai nilai normatif, menumbuhkan rasa percaya diri, kemandirian, keteguhan dan kreativitas. (Foester, 2012:2)

Makna spiritual puasa

Makna Spiritual Puasa dan Pembentukan Insan Berkarakter

Makna Spiritual Puasa dan Pembentukan Insan Berkarakter

Ajaran puasa diturunkan terhadap umat Nabi Muhamad SAW dan umat – umat sebelumnya supaya mereka menempuh derajat taqwa (Q.S. al-Baqarah: 183). Jika tujuan akhir dari perintah puasa yaitu untuk mencapai ketaqwaan.

Karenanya tentu yang dimaksud bukan sekedar puasa untuk menahan lapar dan dahaga saja, tapi juga puasa dalam arti membatasi hawa nafsu. Dengan kata lain, puasa yang ditujukan yaitu mengatur diri dari sikap negatif, lalu masuk ke dalam sikap positif, seperti: jujur, disiplin, tunduk pada tata tertib, etos kerja tinggi, dan solidaritas pada sesama.

1. Kejujuran

Orang puasa akan jujur pada diri sendiri bahwa ia sedang berpuasa. Tidak berani melanggar makan, minum, maupun hal lain yang membatalkan sungguhpun tidak ketahuan orang lain.

2. Disiplin

Puasa mengajarkan orang untuk berdisiplin saat mengakhiri sahur, mengawali berbuka, serta hal-hal yang dilarang.

3. Kepatuhan

Tiap-tiap orang yang berpuasa pada hakekatnya tunduk pada hukum Allah SWT. Kalau ia tak tunduk tentulah dia memilih tak berpuasa. Di dalamnya ada rasa takut melanggar aturan.

4. Etos Kerja

Puasa yang dijalankan sungguh-sungguh akan menunjang seseorang untuk menyadari bahwa kerja itu yaitu ibadah. Kesadaran bahwa kerja itu ialah ibadah akan memunculkan sikap bertanggungjawab atas setiap tindakannya dalam profesi. Dia akan selalu berupaya meningkatkan profesionalismenya dalam berprofesi.

Dia takut sekiranya tidak maksimal dalam bekerja. Ia sadar bahwa ia tak cuma sedang berurusan dengan atasannya atau pelanggannya semata, tetapi sedang berurusan (juga) dengan Allah SWT.

5. Solidaritas

Alur pikir simpelnya bisa disuarakan bahwa jika seseorang diperintah membendung lapar dan dahaga sehari penuh, diinginkan akan tumbuh kesadaran dalam dirinya alangkah orang yang kesulitan ekonomi, yang tiap hari lapar dan dahaga sebab tidak memiliki kans untuk makan yang sepatutnya.

Jadi, seharusnya diperhatikan dan disantuni. Kalau kesadaran ini timbul diinginkan bagi orang yang berpuasa tersebut akan dapat berbagi dengan orang lain secara khusus kaum dhuafa.

Baca Juga: Terungkap Tata Cara Membayar Hutang Puasa Ramadhan

Penutup

Sekian yang dapat Fachri Aja bagikan, tentang Makna Spiritual Puasa dan Pembentukan Insan Berkarakter, dimana Itulah sebahagian mutiara-mutiara pengajaran karakter yang diajarkan dalam ibadah puasa. Selamat berpuasa, semoga menjadi pribadi yang berkarakter mulia, amin. Terima kasih telah mengunjungi fachriaja.com, semoga bermanfaat dan sampai jumpa lagi di artikel Agama berikutnya.

Click on a star to rate it!

Average rating / 5. Vote count:

Author: fachriaja

Fachri begitulah sapaan akrab cowok berkacamata yang lahir di Kota Surabaya dengan memiliki nama lengkap Fachri Fajar Rahadiyathama. Terlahir sebagai anak pertama dari pasangan Ibu Ifa dan Ayah Heri pada 22 Maret 1993. Kuliah di Universitas Airlangga dengan jurusan Manajemen.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *