5+ Materi Amalan Menggapai Ampunan di Bulan Ramadhan

By | Mei 30, 2019

Fachri Aja, Materi Amalan Menggapai Ampunan di Bulan Ramadhan| Pada Artikel yang Anda baca kali ini dengan judul menggapai ampunan di bulan ramadhan, kami telah mempersiapkan artikel tentang menggapai ampunan di bulan ramadhan dengan baik untuk Anda baca dan ambil informasi didalamnya. Bulan Ramadhan merupakan bulan ampunan atau bulan maghfiroh. Karena itu, di bulan suci ini manusia yang penuh dosa dianjurkan untuk bertaubat kepada Allah, sehingga bisa kembali suci seperti bayi yang baru lahir. Mudah-mudahan isi postingan menggapai ampunan di bulan ramadhan celaka orang yang menjumpai yang kami tulis ini dapat Anda pahami. baiklah, selamat membaca.

Nasehat Agar Menggapai Ampunan di Bulan Ramadhan

Menggapai Ampunan di Bulan Ramadhan

Sebagai Muslim yang mengharap keutamaan dan ampunan, di mana dia juga tak lepas dari noda dan dosa, maka noda dan dosa itu dapat terkurangi bahkan terhapus lewat ibadah di bulan Ramadhan. Segala bentuk ragam ibadah di bulan ini harus semaksimal mungkin kita memanfaatkan di antaranya:

1. Memperbanyak shadaqah

alan Menggapai Ampunan di Bulan Ramadhan

Memperbanyak Shadaqah

Imam Tirmidzi meriwayatkan: Rasulullah pernah ditanya:

“Sedekah apakah yang paling utama?” Beliau menjawab: “Seutama-utamanya sedekah adalah sedekah di bulan Ramadhan.”

Nabi adalah orang yang gemar bersedekah. Kegemarannya bersedekah, menjadi semakin meningkat di bulan Ramadhan. Salah seorang sahabat telah berkata:

“Sesungguhnya Rasulullah itu lebih pemurah, dibandingkan dengan angin yang berhembus. Dan terutama lagi di bulan Ramadhan.”

2. Shalat malam berjama’ah

alan Menggapai Ampunan di Bulan Ramadhan

Shalat malam berjamaah

Dari Abu Dzar, bahwasanya beliau menuturkan:
“Dahulu ketika kami melakukan shaum/puasa, Rasulullah tidak pernah shalat (malam) berjama’ah bersama kami hingga bulan Ramadhan hanya tersisa tujuh hari lagi. Lalu beliau shalat bersama kami hingga akhir sepertiga malam pertama.

Pada malam yang ke dua puluh enam, beliau tak lagi shalat bersama kami. Namun pada malam ke dua puluh lima (satu malam sebelumnya), beliau sempat shalat bersama hingga pertengahan malam. Lalu kami bertanya:

“Ya Rasulallah, apakah tidak engkau sisakan sebagian malam agar kami menambah shalat sendiri?” Maka beliau bersabda: “Barangsiapa yang shalat (malam) bersama imam hingga selesai shalatnya, akan dituliskan baginya (pahala) shalat semalam untuknya.”

Hadits tersebut umumnya digunakan oleh para ulama untuk menetapkan disyari’atkannya shalat malam berjama’ah (tarawih) pada bulan Ramadhan. Namun hadits tersebut juga secara lebih khusus menyiratkan keutamaan shalat malam berjama’ah di bulan Ramadhan itu.

Meskipun secara umum, juga berlaku untuk setiap shalat jama’ah, baik yang fardhu maupun yang mustahab. Syaikh Nashiruddin al-Albani menegaskan: Sabda beliau:

“Barangsiapa yang shalat (malam) bersama imam”, itu jelas menunjukkan keutamaan shalat malam Ramadhan berjama’ah.

Hal itu dikuatkan, dengan riwayat dari imam Abu Dawud dalam “Al- Masail” hal.62: Saya pernah mendengar Imam Ahmad ditanya: “Mana yang lebih menarik hatimu, orang yang shalat berjama’ah atau shalat sendiri?” Beliau menjawab: “Tentu saja orang yang shalat berjama’ah.”

Beliau juga pernah ditanya: “Bagaimana kalau orang yang shalat sendiri itu mengakhirkan shalat hingga akhir malam (pada waktu yang paling utama)?” Beliau menanggapi: “Sunnah kaum Muslimin tetap lebih aku sukai.”

3. Memperbanyak amalan akhirat

alan Menggapai Ampunan di Bulan Ramadhan

Memperbanyak amalan akhirat

Bulan Ramadhan yang penuh berkah ini, adalah ladang subur untuk menebarkan beragam amal shalih untuk dituai hasilnya di akhirat nanti. Dan mulai membaca al-Qur’an, memberi makan orang miskin atau memberinya sekedar makanan untuk berbuka puasa, berdoa, beristigfar, mempererat hubungan silaturrahmi dan lain-lain.

Banyak kaum Muslimin yang secara tradisi, memenuhi bulan suci ini dengan bekerja di luar kebiasaan; demi untuk merayakan ‘Idul fitri dengan mewah penuh kegemerlapan, bahkan terkesan dipaksapaksakan.  Di ladang pahala, kita justru menanam amalan duniawi yang lebih banyak menghasilkan kesia-siaan.

Padahal telah diingatkan dalam satu hadits mauquf (hanya sampai kepada sahabat) dari Hasan bin Ali:

“Apabila engkau mendapati seseorang melomba kamu dalam urusan dunia, maka lombalah dia dalam urusan akhirat.”

4. Menjalankan umrah

alan Menggapai Ampunan di Bulan Ramadhan

Menjalankan umrah

Imam Al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahihnya bahwa Rasulullah bersabda:

“Sesungguhnya ganjaran umrah di bulan Ramadhan, sama dengan ganjaran melaksanakan haji sekali atau bahkan haji bersamaku.”

Syaikh Abdullah bin Jarullah bin Ibrahim All Jarullah dalam “Majmu’ Rasail Ramadhan iyyah” menyatakan: “Namun yang perlu dipahami, bahwa umrah di bulan Ramadhan itu, meskipun ganjarannya sama dengan ibadah haji, namun ia tidak menggugurkan kewajiban haji itu sendiri bagi mereka yang mampu berkewajiban”.

5. Beribadah di malam Lailatul qadr

alan Menggapai Ampunan di Bulan Ramadhan

Beribadah di malam lailatul qadr

Para ulama menyatakan, bahwa malam itu disebut dengan Lailatul qadri (malam kemuliaan), karena kemuliaan dan keutamaannya. Bahkan dinyatakan, bahwa dimalam itu juga rizki dan ajal kematian para hamba untuk selama satu tahun ditentukan Allah. Sebagaimana difirmankan-Nya: “Pada malam itu dijelaskan, segala urusan yang penuh hikmat.” (Ad-Dukhan: 4)

Banyak ayat yang menceritakan tentang keutamaannya yang tidak kami sebutkan di sini. Di malam itu juga pahala amal ibadah Allah lipatgandakan. Nabi Bersabda:

“Barangsiapa yang beribadah di malam Lailatul qadri, dengan penuh keimanan dan perhitungan; akan diampuni segala dosa-dosanya yang terdahulu.”

Adapun waktu malam tersebut, banyak sekali diperselisihkan para ulama. Imam Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam “Fathul Bari”, setelah menuturkan puluhan pendapat para ulama, berkata: “Pendapat yang paling kuat, malam itu terdapat pada sepuluh malam terakhir.

Ia selalu berpindah, namun yang paling diharapkan dia akan muncul, pada malam-malam ganjil. Adapun tepatnya; menurut Syafi’iyyah pada malam ke 21 atau 23. Tapi menurut sebagian besar ulama pada malam ke 27.” Demikian juga pendapat syaikh al-Albani dalam “Qiyamul lail” .

Para ulama sering mengungkapkan, bahwa hikmah tersembunyinya kepastian malam itu, adalah agar kaum Muslimin giat beribadah pada setiap malam bulan Ramadhan, Wallahu A’lam.

6. I’tikaf

alan Menggapai Ampunan di Bulan Ramadhan

Itikaf

Lepas dari perselisihan di mesjid mana i’tikaf itu disyari’atkan, kaum Muslimin tetap harus mengakui kesepakatan para ulama bahwa i’tikaf di bulan Ramadhan, khususnya sepuluh hari terakhir, adalah keutamaan besar sekaligus sunnah yang tak pernah ditinggalkan Nabi seumur hidupnya hingga beliau wafat.

Dari Abu Hurairah berkata:
“Nabi dahulu beri’tikaf setiap bulan Ramadhan selama sepuluh hari. Namun pada tahun di mana beliau wafat, beliau beri’tikaf selama dua puluh hari.”

Karena ia merupakan sunnah yang selalu dilakukan Nabi, maka kaum Musliminpun harus merentang jalan demi melaksanakannya sedapat mungkin, di masjid manapun i’tikaf itu dilakukan. Oleh sebab itu, para ulama yang memilih pendapat bahwa i’tikaf itu hanya di tiga mesjid utama (mesjid Al-Haram, An-Nabawi dan Al-Aqsha).

mereka menjadikan dalil “dilarangnya melakukan perjalanan sulit kecuali ke tiga masjid” untuk dibolehkannya mencapai masjid itu dengan upaya keras, karena di sana disyari’atkannya i’tikaf, sebagaimana yang diungkapkan oleh Imam Ash-Shan’ani dalam “Subulu as-Salam“.

Pendapat ke dua ini termasuk yang dipilih Syaikh Muhammad Nashiruddin al- Albani Hafidzahullahu Ta’ala seperti beliau jelaskan dalam kitabnya “Qiyamu ar- Ramadhan“. Adapun bagi mereka yang berpendapat disyari’atkannya i’tikaf itu di setiap masjid jami’, merekapun harus berusaha menghidupkan kembali sunnah Nabi yang sudah lama ditinggalkan ini.

Baca Juga: 5 Doa di Bulan Ramadhan Makbul Saat Puasa

Penutup

Sekian yang dapat Fachri Aja bagikan, tentang Materi Amalan Menggapai Ampunan di Bulan Ramadhan, dimana Di bulan ini, umat Islam berlomba untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan cara memperbanyak ibadah. Terima kasih telah mengunjungi fachriaja.com, semoga bermanfaat dan sampai jumpa lagi di artikel Agama berikutnya.

Click on a star to rate it!

Average rating / 5. Vote count:

No votes so far! Be the first to rate this post.

Author: fachriaja

Fachri begitulah sapaan akrab cowok berkacamata yang lahir di Kota Surabaya dengan memiliki nama lengkap Fachri Fajar Rahadiyathama. Terlahir sebagai anak pertama dari pasangan Ibu Ifa dan Ayah Heri pada 22 Maret 1993. Kuliah di Universitas Airlangga dengan jurusan Manajemen.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *