Tema Kajian Fiqih Wanita di Bulan Ramadhan

By | Juni 2, 2019

Fachri Aja, Tema Kajian Fiqih Wanita di Bulan Ramadhan | Tanpa basa-basi lagi, panduan kali ini seputar tema kajian fiqih wanita di bulan Ramadhan.Dalam artikel yang kami bagikan pada kesempatan kali ini, kami akan menjelaskan beberapa poin tentang inspirasi tema kajian fiqih wanita di bulan Ramadhan. Ramadhan merupakan bulan yang berkahnya tidak hanya diraih oleh kaum adam. Akan tetapi keberkahan dan rahmat yang terpancar darinya, juga diraih oleh banyak kaum hawa, sebab ramadhan merupakan bulan musabaqah (perlombaan) antara semua manusia dalam beramal shalih. Oleh karena itu, Anda bisa memulai membaca artikel mengenai kajian fiqih wanita di bulan Ramadhan secara lengkap dibawah ini.

Tema Kajian Fiqih Wanita di Bulan Ramadhan Yang Menarik

Tema Kajian Fiqih Wanita di Bulan Ramadhan

Tema Kajian Fiqih Wanita di Bulan Ramadhan

Meningkatkan nilai-nilai keimanan. Bahkan ramadhan bagi muslimah yang bisa mengungguli semangat, kwantitas dan kwalitas amalan kaum adam dalam melewati hari-hari ramadhan yang sarat berkah dan rahmat. Tentunya, dengan tanpa meninggalkan kewajiban utama sebagai seorang wanita.

baik sebagai anak, istri maupun ibu rumah tangga. Dari sisi inilah seorang wanita terlihat istimewa, terlebih lagi jika ia seorang istri dan pada waktu yang sama ia juga merupakan seorang ibu. Rasa letih dan lelah dalam mengatur kerapian dan kebersihan rumah.

Ditambah lagi kesibukan mengurusi suami dan memperhatikan kondisi lahir batin putera-puterinya, tidaklah menghalanginya untuk terus berpuasa, menyiapkan makanan sahur dan berbuka, shalat malam dan Tarawih, membaca Al-Quran, dan melaksanakan amalan amalan utama lainnya dalam Ramadhan.

Inilah merupakan diantara seutama utamanya amalan yang pelakunya dijanjikan oleh Allah ta’ala dalam firman-Nya

Artinya: “Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (QS An- Nahl : 97).

Sepintas, mungkin agak sulit fikih perempuan muslimah untuk mengatur waktu dalam mengerjakan amalan amalan ramadhan yang bertumpuk ini, apalagi harus shalat tarawih puluhan menit atau tilawah berjam-jam misalnya. Namun sebagai muslimah yang shalihah atau ingin menjadi shalihah.

tantangan yang seperti ini hendaknya dijadikan sebagai batu loncatan untuk lebih semangat dan tekun dalam mengatur waktu-waktu ibadah, dan mengisinya hingga tak ada yang terasa sia-sia, bahkan sangat mungkin untuk menggabungkan beberapa amalan atau kesibukan tersebut dalam satu waktu. Sebagai contoh kecil, misalnya memasak/mencuci sambil banyak berdzikir, menidurkan anak sambil tilawah Al-Quran, dll.

1. Fiqih wanita tentang haid

Pada hakikatnya haid dan nifas bukanlah halangan bagi seorang wanita muslimah dari memperbanyak ibadah dibulan Ramadhan, utamanya disepuluh hari terakhir darinya, bahkan amalan-amalan yang ia terbiasa melakukannya tetap diberikan pahala ketika ia haid.

Sebagaimana dalam hadis: “Jika seorang hamba sakit atau melakukan safar, maka (amalan-amalan yang ia tinggalkan) tetap diberikan pahala atasnya seperti tatkala ia muqim dan sehat”. Sudah tentu, ia tidak boleh melaksanakan shalat, berpuasa, dan menyentuh Mushaf Al-Quran.

Hukum haid atau nifas di bulan Ramadhan

  1. Wanita Haid atau Nifas haram baginya berpuasa, juga shalat dan menyentuh
    Mushaf Al-Quran secara langsung.
  2. Seorang wanita yang haid/nifas ketika sedang berpuasa, memiliki beberapa kondisi :
    *Haid/nifasnya datang pada pagi atau siang hari atau beberapa saat sebelum waktu
    berbuka puasa, maka puasanya pada hari itu batal, dan wajib baginya untuk
    mengqadhanya diluar Ramadhan.
    *Jika ia suci pada malam harinya, atau beberapa saat sebelum azan subuh maka ia
    wajib berpuasa pada pagi harinya, walaupun ia belum mandi wajib, sebab mandi
    wajibnya bisa dilakukan selepas azan subuh.

2. Hukum wanita hamil atau menyusui di bulan Ramadhan

Wanita hamil atau menyusui tetap diwajibkan menjalankan puasa ramadhan selama ia sanggup melakukannya, namun jika ia tidak sanggup maka perlu memperhatikan hal hal berikut:

  1. Jika keduanya tidak mampu berpuasa karena khawatir kesehatan janin atau anaknya terganggu. Maka ia boleh berbuka dan tidak puasa. Namun, ia wajib mengqadha puasa tersebut dihari-hari lain selain Ramadhan. Membayar fidyah 1 mud makanan untuk orang miskin untuk satu hari berbuka.
  2. Jika ketidaksanggupannya karena khawatir akan kesehatan dirinya, atau sekaligus kesehatan janin/anaknya, maka boleh berbuka, lalu mengqadhanya pada hari-hari lainnya, namun tidak perlu mebayar fidyah.25 Wallaahu a’lam.

Baca Juga: Pengertian Ibadah Sunnah Sahur di Bulan Ramadhan

Penutup

Sekian yang dapat Fachri Aja bagikan, tentang Tema Kajian Fiqih Wanita di Bulan Ramadhan, dimana Anda telah mengetahui hukum yang bernaan tentang wanita haid, nifas, hamil, menyusui dalam masalah qodho, fidyah dan lain sebagainya. Terima kasih telah mengunjungi fachriaja.com, semoga bermanfaat dan sampai jumpa lagi di artikel Agama berikutnya.

 

Click on a star to rate it!

Average rating / 5. Vote count:

Author: fachriaja

Fachri begitulah sapaan akrab cowok berkacamata yang lahir di Kota Surabaya dengan memiliki nama lengkap Fachri Fajar Rahadiyathama. Terlahir sebagai anak pertama dari pasangan Ibu Ifa dan Ayah Heri pada 22 Maret 1993. Kuliah di Universitas Airlangga dengan jurusan Manajemen.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *